Kepompong Ramadhan

Pernah mengamati bagaimana ulat menjadi kupu-kupu? Ulat harus berpuasa,
menjadi kepompong, hingga ‘lahir’ kembali dalam wujud yang berbeda yaitu
kupu-kupu. Perubahan wujud dari ulat menjadi kupu-kupu (metamorfosis)
diikuti pula dengan perubahan peran di lingkungan. Yang semula ditakuti orang,
berubah menjadi dicinta, dulu dijauhi, sekarang didekati, dulu menimbulkan
bencana bagi bunga dan buah, kini membantu proses penyerbukan. Ulat, yang
semula menyandang ‘nama besar’ sebagai biang masalah, berubah menjadi
penopang keberlanjutan ketersediaan sumber daya.
Tidak beda jauh dengan ulat, hamba Allah yang lain, ayam, turut berpuasa demi
keberlangsungan makro kosmos (semesta). Bayangkan, kalau mulai detik ini
seluruh induk ayam (kampung) di seluruh dunia mogok tidak mau mengerami
telur-telurnya. Maka, dapat dipastikan kita tidak bisa lagi menikmati telur
goreng ceplok mata sapi, dan hangatnya paha ayam (kampung) bakar. Puasanya
ayam dan ulat, adalah dalam rangka mentraktir lingkungannya, tentu saja
termasuk kita. Tidakkah kita ingin mengikuti jejak kedua hamba Allah itu?!
Tak terasa kita telah memasuki bulan Ramadhan. Ada banyak harapan yang
telah kita bangun sejak saat ini. Harapan untuk lebih dekat dan merasakan
nikmat berinteraksi dengan yang Maha Berkehendak, harapan mendapat kasih
sayang—Nya. Selama berpuasa kita berdo’a tidak hanya do’a untuk meminta
rezeki, kenikmatan materi, fasilitas ataupun kenyamanan, tetapi do’a untuk
meminta ridho, ampunan, dan jannah (surga). Sehingga setelah Ramadhan,
memasuki 1 Syawal nanti, jasmani dan ruhani kita dalam keadaan fitrah,
mendapat kekuatan baru untuk berkarya lebih baik.
Di luar Ramadhan sepanjang waktu kita berkomunikasi dengan benda-benda,
menghadirkan hasrat fisik dan emosi dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Dipenuhi dengan ilmu pengetahuan dan akal. Maka di bulan Ramadhan kita
beribadah, bagian dari upaya menjalin komunikasi dengan rabbul ‘alamin,
tempat dan semua asal dari segala klausal. Menghadirkan sifat-sifat Allah yang
menghidupi, mencintai, mencipta dan penyabar.
Dengan berpuasa, pada saat berbuka kita menemukan betapa nilai fasilitas Allah
sangat bernilai tinggi. Seteguk air putih bisa menghilangkan kedahagaan dan
rasa lapar seharian. Dari sini timbul pemahaman dengan sempurna apa arti
materi. Karena pada saat kita berfoya-foya justru menghilangkan nikmat dan
kehilangan nilai. Produk orang berpuasa adalah manusia otentik, sanggup
berucap sesuai dengan kenyataan, konsisten mengambil jarak dengan diri.
Sanggup dan peduli melayani semesta alam. Timbulnya daya cipta terhadap
kehidupan.
Saat berpuasa adalah saat berdialog dengan kenikmatan, berupa sikap untuk menunda.                                                                                    Nanti, nanti, nanti, demikian kata orang yang berpuasa ketika
kenikmatan menghampiri. Berpuasa adalah kesanggupan untuk menunda
kenikmatan. Puasa melatih kita untuk jujur, bersabar dengan kenikmatan meski
terang-terang itu sudah menjadi hak kita. Puasa membuat kita berlaku
konsekuen, toleran sabar dan malu. Dalam berpuasa di bulan Ramadhan kita
diingat pada awal komunitas sosial kita, sebagai manusia yang tidak hanya
berdimensi jasmani tapi ruhani, sudah terlalu banyak ketidakselarasan kita
lakukan, kepada lingkungan, pada semesta terlebih kepada Tuhan.
Beribadah saat Ramadhan, adalah saat kita menjadi kepompong, dalam rangka
menuju kupu-kupu.***

(Agus M. Irkham – Era Muslim)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: